23 Dzulqaidah 1441 H





Kota Bogor Ekspor 7 Ton Maggot ke Inggris

Ditengah mewabahnya virus Corona (Covid 19) di sejumlah negara hingga daerah yang mengakibatkan lesunya perekonomian dunia, hal tersebut lantas tak menyurutkan Kota Bogor dalam kegiatan perniagaan.

Hal Itu dibuktikan saat Menteri Pertanian (Mentan) RI, Syahrul Yasin Limpo bersama Wakil Wali Kota Bogor, Dedie A. Rachim secara simbolis melepas kegiatan ekspor komoditas Larva Kering atau maggot senilai Rp 1,2 Triliun ke negara Inggris yang dilakukan di Rumah Potong Hewan (RPH) Bubulak, Kota Bogor, Selasa (03/03/2020) sore.

Pelepasan ekspor komoditas Larva Kering itu merupakan hasil produksi dari PT Bio Cycle Indo. Pihaknya mengaku akan mengirimkan Larva Kering jenis Black Soldier Flies (BSF) ke negara Inggris ini sebanyak 7 ton melalui Pelabuhan Tanjung Priok.

Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo mengatakan, kegiatan ini sebagai bagian upaya Kementerian Pertanian (Kementan) dalam menggenjot Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia dan kesejahteraan masyarakat melalui peningkatan ekspor berbagai komoditas pertanian.

"Salah satunya, ya dengan ekspor Larva Kering ini. Sungguh luar biasa, bisa menembus Inggris itu adalah pride (kebanggan) sebuah negara, dan tidak gampang menembus pasar Inggris. Bogor hari ini mencetak sebuah arah seperti itu. Biasanya kita bisa tembus Inggris setelah melalui Italia atau Jerman, Roma, kalian sudah tembus langsung berarti itu pintu yang bagus, khususnya di bidang pertanian Indonesia kedepannya" ujar Syahrul Yasin Limpo.

Indonesia, menurut Mentan, memerlukan pelaku usaha yang terus melakukan inovasi untuk menumbuhkan produk ekspor baru atau emerging seperti larva kering ini. Bahkan, negara tujuan baru pun perlu terus diperluas. Menurut dia, berkoordinasi dan bersinergi dapat memperkuat jejaring antara pemerintah pusat, daerah dan seluruh pemangku kepentingan guna mendorong potensi ekspor pertanian dalam memasuki pasar global.

"Hari ini Bogor membuktikan ada komoditas yang bisa diekspor dan itu tidak ada di negara lain. Larva kering ini menjadi contoh bahwa sebenarnya kemampuan produk negeri ini menembus kebutuhan dunia yang sangat terbuka luas," tegasnya.

Di lokasi yang sama, Wakil Wali Kota Bogor, Dedie A. Rachim menyampaikan, jika para generasi muda saat ini diharapkan dapat mencontoh apa yang sudah dilakukan PT Bio Cycle Indo.

"Mudah-mudahan apa yang sudah dicontohkan oleh teman-teman Biocycle bisa menginspirasi kita semua bahwa ada sesuatu yang positif dari kreatifitas anak muda," kata Dedie.

Dedie menyebut, jika sebelumnya Kota Bogor banyak menerima pendapatan dari sektor jasa yang didalamnya antara lain restoran, hotel, dan kuliner, namun dengan adanya tambahan satu kreatifitas dari anak muda dalam kegiatan perdagangan lintas negara ini tentunya diharapkan akan berdampak pada pemasukan Kota Bogor di sektor lainnya.

"Tentunya akan memberikan harapan Kota Bogor untuk menyerap PAD yang lain, termasuk juga penyerapan tenaga kerja untuk masyarakat kota Bogor,"

Di kesempatan yang sama, Owner PT Bio Cycle Indo, Budi Tanaka selaku eksportir menuturkan bahwa larva kering BSF ini di ekspor ke berbagai negara untuk dijadikan industri pakan ternak. Sebab, kandungan dalam larva kering itu kaya akan protein dan gizi bagi campuran pakan hewan ternak.

Menurutnya industri ini sangat menjanjikan dan memiliki peluang yang besar bagi perusahaan pakan ternak Indonesia lainnya guna mengembangkan di pasar lokal maupun pasar mancanegara. Mengingat terjaminnya ketersediaannya setiap saat dengan harga yang relatif lebih murah dibanding sumber protein lainnya, dengan demikian dapat menekan biaya pakan dalam industri peternakan, yang berkontribusi sekitar 70-75 persen dari total biaya produksi.

"Untuk memenuhi target ekspor dalam tiga tahun ke depan sebesar 24.000 ton per tahun dengan total nilai penjualan mencapai Rp 1,3 Triliun. Perusahaan ini kita kembangkan juga di daerah Pekanbaru, Riau," kata Budi.

Budi menyebut, saat ini PT Bio Cycle Indo sedang melakukan pengurangan izin untuk negara Amerika yakni FBA dan Kanada CFIA. Ia berharap semua regulasi segera lengkap dan Indonesia bisa menjadi raja dari pada maggot atau larva ini.

"Sampai tahun ini kita mempunyai pengiriman yang cukup bagus, permintaan yang luar biasa. Kenapa, karena kita punya belatung atau maggot kelas dunia yang tidak bisa negara lain kalahkan," katanya.

Sebelumnya larva yang merupakan komoditas pertanian ini juga berhasil diekspor ke negara tujuan Jepang maupun Uni Eropa (Belanda) oleh perusahaan yang sama dengan jumlah 59,113 ton dan total nilai penjualan Rp 3,31 Triliun dalam kurun waktu tahun 2018-2019.

Pengiriman ekspor dilaksanakan melalui pelabuhan Tanjung Priok dan disertai penjaminan kesehatan dan keamanannya dengan Sertifikat Kesehatan oleh Balai Besar Karantina Pertanian Tanjung Priok, dimana sebelumnya tempat produksi telah ditetapkan sebagai Tempat Tindakan Karantina oleh Menteri Pertanian serta disertifikasi dengan Nomor Kontrol Veteriner (NKV). (Prokopim :Alif/Ryan-SZ)


Editor : Dinas Komunikasi Dan Informatika

Share On : Twitter Facebook Google+
Kalendar
GPR KOMINFO
Statistik Pengunjung
Bulan ini     : 36818   Kunjungan
Bulan lalu   : 101384     Kunjungan
Total            : 850253   Kunjungan